Konsistensi untuk Perubahan Yang Nyata

Reformasi98

Beberapa minggu lalu hingga saat ini masih menjadi minggu-minggu yang cukup padat. beberapa agenda rutin organisasi ditambah dengan kesibukan di luar organisasi cukup membuat saya pribadi merasakan kesulitan dalam hal pengaturan waktunya. kesibukan sehari-hari memang bukan hal baru untuk diri saya, namun untuk kali ini memang rasanya tubuh tidak memiliki cukup banyak waktu untuk beristirahat. beruntung kegiatan saya beberapa bulan ini adalah kegiatan sosial yang tentunya membuat rasa lelah yang muncul dari dalam diri saya terasa tidak berarti dibandingkan dengan kebahagiaan saya bisa membantu mereka yang membutuhkan. Kegiatan saya beberapa bulan ini memang sudah jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. kegiatan organisasi di kampus yang cukup padat setiap harinya dan cukup menyita waktu memang sangat menguras tenaga dan pemikiran saya. namun ketika itu dengan idealisme saya sebagai mahasiswa yang masih membara membuat saya merasa bahwa apa yang saya lakukan memang sudah selayaknya untuk ikut berkontribusi demi perubahan di negeri ini. Tidak hanya saya yang berpikir demikian, namun beberapa rekan saya yang satu organisasi di kampus dengan saya pun merasakan kesadaran yang sama dengan diri saya.

Selayaknya seorang organisatoris di kampus, saya pun cukup aktif menghadiri rapat demi rapat yang diadakan organisasi tempat saya beraktivitas tersebut. mulai dari membahas rencana gerak organisasi, kondisi internal anggota, hingga program-program yang akan dijalankan. Rasa lelah memang selalu terasa di tengah kegiatan saya, namun ketika itu rasa lelah tidak pernah lebih kuat ketimbang idealisme yang saya miliki. Namanya juga mahasiwa, mereka masih sangat terkenal dengan idealisme nya. mulai dari aksi di jalan untuk menuntut perubahan, mengikuti forum diskusi atau kajian yang mengangkat permasalahan sosial, politik dan ekonomi hingga mengkritisi pemerintah atas permasalahan yang terjadi di negeri ini rasanya sudah menjadi makanan sehari-hari.

         Banyak orang yang menginginkan perubahan nyata namun hanya sedikit yang mau memperjuangkan perubahan yang nyata tersebut. seperti yang kita tahu bahwa dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang bisa didapatkan dengan cara instan. semua membutuhkan waktu dan proses. Dalam organisasi internal kampus seperti BEM,Himpunan, atau Lembaga lainnya. Mereka memang selalu memiliki program tiap tahunnya.namun seringkali program-program itu tidak rutin berjalan dan bahkan bisa saja berubah sesuai keinginan kepengurusan yang saat ini sedang menjabat. padahal untuk bisa merasakan manfaat dari sebuah program itu secara nyata tentunya harus ada tahapan dan proses panjang yang dijalani. Memang beberapa program yang dimiliki lembaga mahasiswa di kampus ada yang sudah cukup positif, banyak dan variatif hanya saja kekurangan terbesarnya menurut saya adalah kurangnya konsistensi atau keberlanjutan dari program tersebut dari tahun ke tahun. padahal perubahan secara nyata dapat kita rasakan apabila kita mau secara konsisten menjalankan program tersebut
         2 Tahun berada dalam sebuah organisasi di internal kampus perlahan mulai menimbulkan perasaan jenuh dalam hati saya. rutinitas yang itu-itu saja tiap tahun ditambah dengan permasalahan antar anggota yang seringkali muncul dan hanya berkutat dalam sebuah permasalahan yang itu lagi dan itu lagi membuat saya mulai berpikir ulang untuk melanjutkan aktivitas saya. saya kemudian memikirkan lebih jauh tentang pencapaian apa yang telah saya raih selama 2 tahun bergelut di dunia organisasi kampus ini. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa apa yang saya dapatkan di organisasi sampai saat ini menurut saya hanya bermanfaat untuk diri saya sendiri. nyaris belum ada hal yang saya lakukan untuk masyarakat sekitar. Mungkin organisasi saya di kampus memang penuh dengan program-program yang dikhususkan untuk “masyarakat” mulai dari bakti sosial, diskusi terkait permasalahan negeri ini, forum kajian tentang ekonomi indonesia hingga seminar nasional yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. namun setelah saya telaah lebih jauh, sebenarnya yang masyarakat butuhkan bukan hanya itu. Idealisme saya dahulu memang mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan ini adalah yang dibutuhkan demi kemajuan negeri ini, namun pada akhirnya saya menyadari bahwa ada tembok tebal yang membatasi antara kegiatan di lingkungan kampus dengan permasalahan yang secara riil terjadi di masyarakat sekitar seperti masih tingginya angka putus sekolah di malang, tingginya angka free sex di kalangan remaja hingga kurang meratanya kualitas sekolah di beberapa wilayah di Malang. sehingga program-program yang dikhususkan untuk para pemuda dan mahasiswa di kampus ini tidak pernah berubah menjadi sebuah kontribusi positif yang kongkrit bagi masyarakat. padahal sudah selayaknya organisasi di dalam kampus menjadi katalisator perubahan yang mampu berkontribusi positif untuk meringankan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat sekitar kampus tersebut berada.
sampai akhirnya momentum perubahan dalam diri saya pun tiba. beberapa bulan lalu saya dan rekan-rekan berkesempatan untuk mendirikan sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan.
         pengalaman saya di masa lalu membuat saya cukup berhati-hati dalam mengelola komunitas ini. karena jujur saya tidak ingin mengulangi “dosa” masa lalu saya ketika 2,5 tahun berada dalam sebuah organisasi yang pada akhirnya hanya demi kepentingan saya sendiri. saya ingin meletakkan pijakan yang tepat dalam komunitas ini yang akhirnya dapat membuat setiap gerak dari komunitas ini bermanfaat bagi masyarakat sekitar. karena organisasi mahasiswa yang baik menurut saya adalah yang mampu berkontribusi positif dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan masyarakat yang ada di sekitarnya.  karena tidak akan ada artinya sebuah organisasi itu berdiri dengan program yang mentereng dan baik apabila ternyata organisasi tersebut ternyata tidak mampu menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat sekitar kampusnya berada.

Kebahagiaan

“Kebahagiaan adalah pertemuan antara keinginan dengan sebuah kenyataan”

~Dahlan Iskan~

          kata-kata yang kemudian muncul dari seorang menteri BUMN  saat diwawancarai oleh seorang wartawan di media swasta ini mendadak membuat saya sempat tertegun dan merenung sejenak tatkala mendengarnya. sebuah perkataan singkat yang memiliki makna tidak sederhana bagi saya yang mencoba memaknainya saat ini. kata-kata ini memang terlihat singkat,indah dan penuh dengan makna. ketika itu tanpa pikir panjang saya pun mengupdate status twitter saya dengan perkataan pak menteri tersebut. tidak menunggu lama untuk kemudian banyak yang me retweet status saya tadi yang menandakan bahwa beberapa pengguna twitter lain di indonesia sepakat dengan adanya perkataan pak dahlan itu tadi. bahkan ada pula beberapa yang me mention diri saya dan mengatakan bahwa dia sangat sepakat dengan status saya barusan.

saya kurang paham apakah beberapa pengguna twitter yang sempat me retweet status saya tadi benar-benar memahami makna didalamnya atau hanya sekedar setuju karena kata-katanya yang indah tanpa mereka memahami maksud tersembunyi dibalik keluarnya status saya tersebut. karena jika saya mencoba menelaah perkataan pak Dahlan Iskan ini tadi, maka sesungguhnya menurut saya orang-orang yang menyepakati status singkat saya di twitter tadi apabila dia tidak berhati-hati bisa dengan mudahnya terjerumus kesedihan. mengapa bisa demikian? jawabannya cukup simpel, yaitu karena berdasarkan kata-kata itu tadi, apabila keinginan mereka itu tak menjadi kenyataan maka mereka juga takkan pernah bisa memperoleh kebahagiaan. semakin keinginan mereka tak terwujud menjadi kenyataan, maka diri mereka juga makin tidak bahagia.

Padahal tidak semua yang kita inginkan itu akan menjadi kenyataan,namun sesungguhnya apa yang lebih kita butuhkan dalam hidup,maka itulah yang akan menjadi kenyataan. keinginan dan kebutuhan tentulah sebuah hal yang berbeda karena apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan. inilah yang seharusnya perlu menjadi fokus utama dalam hidup apabila kita benar-benar ingin meraih kebahagiaan yang sebenarnya dalam kehidupan. yaitu fokus untuk mampu memilah mana yang termasuk keinginan kita dan mana yang merupakan kebutuhan kita dalam hidup.

“Karena kebahagiaan yang sebenarnya itu bukan ketika keinginan kita menjadi kenyataan namun ketika kebutuhan kita telah mampu terpenuhi seluruhnya”

Pemimpin dan Kepemimpinan

          Berbicara mengenai pemimpin,mungkin akan menjadi tema yang sangat luas dan sudah banyak yang membahasnya. Namun saya akan mencoba menerjemahkan makna pemimpin itu menurut saya sebagai pembuka tulisan di blog saya ini yang cukup lama vakum yang harapannya bisa sedikit bermanfaat bagi diri kita semua. :)

Ahmad Rusli dalam buku Pemimpin Dalam Kepimpinan Pendidikan (1999) pernah Menyatakan pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya) ke arah mencapai tujuan yang ditetapkan,  sedangkan menurut Kartini Kartono (1994 . 33) Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kclebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Berbicara mengenai seorang pemimpin maka kita juga tidak pernah bisa lepas dari seni yang digunakannya yaitu kepemimpinan. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi(Nurkolis,2003)

Dari pengertian diatas,bisa kita ambil bahwa Pemimpin sebenarnya adalah seseorang yang melakukan sifat-sifat kepemimpinan atau bisa juga berbentuk orang yang “berkuasa”. Para pemimpin memiliki kecenderungan untuk memerintah atau merasa memiliki, hal ini wajar karena pemimpin merupakan pusat dari sebuah kelompok yang bertugas mengorganisir dan mengarahkan kelompok tersebut hingga mencapai tujuannya. Inilah yang sering membuat dia merasa bertanggungjawab untuk semuanya dan merasa yang paling berhak mengaku-ngaku memiliki organisasi atau kelompok yang dia pimpin.

Antara pemimpin dengan kepemimpinan sebenarnya memiliki hubungan yang cukup unik. Berbicara mengenai pemimpin,maka sebenarnya kita tidak bisa hanya berbicara mengenai posisi atau “kekuasaan”, namun kita tidak berbicara mengenai sifat kepemimpinannya.

Pemimpin bukan dilihat dari posisinya.tapi dilihat dari kemampuan untuk memimpinnya (Kepemimpinannya). Terlalu sempit apabila kita menilai bahwa pemimpin itu dilihat dari jabatan atau posisinya dalam sebuah tim. Karena dari pengertian kepemimpinan diatas sudah jelas bahwa pemimpin adalah dia yang bisa mempengaruhi dan memberi contoh pada orang-orang disekitarnya untuk mencapai tujuan kelompok,maka sebenarnya siapapun dari anggota kelompok itu bisa saja tanpa sadar menjadi pemimpin yang sesungguhnya dari sebuah kelompok. Hal ini bergantung pada dampaknya pada orang-orang disekitarnya yang dapat mengarahkan kelompoknya mencapai tujuan yang diharapkan.

Seringkali di negeri ini kita malah menemukan pemimpin yang sama sekali tidak memiliki kapabilitas sebagai pemimpin. Kelompok yang dipimpinnya bisa menjadi baik karena dalam tim yang dia pimpin ada seorang anggota yang secara tidak sadar mengambil alih fungsi kepemimpinan yang sebenarnya dibutuhkan oleh tim tersebut. Karena sekali lagi, yang dibutuhkan dalam sebuah kelompok bukan hanya perintah dari seorang pemimpin,namun juga tanggung jawab dan keteladanan dari seseorang yang sesungguhnya memiliki jiwa kepemimpinan walaupun dia hanya seorang anggota dalam kelompok tersebut.

Katakan Tidak pada(hal) Korupsi

saya sempat tertegun beberapa saat tatkala membaca headline news di sebuah televisi swasta kemarin. sebuah kalimat singkat yang saat ini menjadi judul tulisan saya ini memang cukup membuat pemikiran saya berputar sejenak sebelum kemudian tersungging senyum tipis sekaligus haru dalam wajah saya. senyum saya itu mungkin bukanlah sebuah senyum yang pantas untuk diteruskan karena senyum itu bercampur haru yang cukup dalam. perasaan haru yang muncul dari keprihatinan yang sangat dalam melihat situasi di negeri ini saat ini.

beberapa tahun lalu iklan ini memang sangat fenomenal di layar kaca kita. setiap hari iklan yang bertemakan “katakan tidak pada KORUPSI” itu setia menemani hari-hari kita dengan berbagai public figure yang membintanginya. seringnya iklan ini ada di media televisi mau tidak mau berpengaruh terhadap opini masyarakat. citra dari sebuah partai besar yang menggunakan kampanye ini pun terangkat naik dilihat dari segi perolehan suara mereka dalam pemilu . saya rasa menggunakan iklan di televisi adalah sah sah saja untu dilakukan. karena seperti yang kita tahu media televisi saat ini telah menjadi media publikasi yang sangat efektif untuk berpromosi.

iklan tersebut memang tampak sangat meyakinkan dilihat dari segi ekspresi orang-orang yang membintanginya karena terlihat sangat tegas dan serius dalam upaya menghentikan korupsi di negeri ini. namun siapa sangka apabila salah satu diantara bintang iklan tersebut saat ini justru ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.  siapa yang menyangka bahwa sosok fenomenal yang ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK itu adalah angelina sondakh, politikus partai demokrat sekaligus mantan putri indonesia tahun 2001.

dilihat sebagai backgound masa lalunya, publik memang bisa dibilang sangat kecewa. bagaimana tidak, seorang putri indonesia yang sangat dibanggakan pada tahun 2001 tersebut ternyata saat ini tersangkut kasus kasus dugaan suap Wisma Atlet dan korupsi anggaran di Kemendikbud. dengan prestasi masa lalu yang mentereng serta kemampuan intelektual yang tinggi dan rasa keinginan berbakti pada negeri ternyata tidak menjamin sesorang tidak tergoda oleh permainan uang yang terjadi di berbagai lembaga publik negeri ini.

lagi-lagi politik negeri ini memperlihatkan sisi kelamnya yang membuat seorang putri indonesia yang merupakan putri-putri bangsa pun bisa terjebak dalam lingkaran setannya. saya bukanlah seseorang yang antipolitik karena saya sadar bahwa orang yang anti politik sama saja membiarkan bangsanya terdampar pada sebuah kekacauan.  politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles) . dan politik sebenarnya adalah perwujudan demokrasi dimana pemerintahan tertinggi berada di tangan rakyat. disaat politik negeri ini menunjukkan sisi kelamnya dan masyarakat hanya bisa mencemoohnya maka siapa yang akan memperbaiki kondisi politik negeri ini?

akan sangat disayangkan apabila masyarakat tidak melihat fenomena diatas tadi sebagai sarana untuk menginstrospeksi diri masing-masing. karena bukan tidak mungkin setiap masyarakat nantinya ada kalanya akan dihadapkan pada situasi seperti itu dimana akan dihadapkan pada godaan yang berat antara kepentingan pribadi(Korupsi) dengan kepentingan bangsanya sendiri. negara ini bukan hanya butuh kritikan padahal orang-orang yang gemar mengkritik itu belum tentu tahan godaan suap juga.sudah saatnya masyarakat menunjukkan kepedulian terhadap negerinya dengan cara yang lebih positif dan bukan hanya dengan kritikan tanpa aksi belaka. karena apabila bukan masyarakat sendiri yang memperbaiki negeri ini, siapa lagi???

 

 

“sesungguhnya Perubahan sebuah bangsa ada di tangan bangsa itu sendiri”

Liberalisasi Bahan Bakar Minyak

Persoalan tingginya harga minyak dunia tampaknya mulai membuat berbagai pihak angkat bicara dan melakukan spekulasi pendapat untuk dapat menjelaskan fenomena tingginya harga minyak seperti saat ini. BBM saat ini memang tergolong komoditas yang sangat strategis. karena Selain faktor penggerak berbagai roda ekonomi masyarakat, BBM juga selalu memiliki daya tarik bisnis yang keuntungannya menggiurkan. Dengan demikian, pertarungan politik dalam mempengaruhi kebijakan harga BBM tidak sekadar tarik-menarik kepentingan politik di dalam negeri Indonesia seperti yang kita lihat dalam sidang paripurna yang membahas penghapusan subsidi BBM beberapa waktu lalu.

pertarungan ini selain melibatkan beberapa kelompok yang memiliki kepentingan terhadap minyak di indonesia, juga melibatkan pihak eksternal yang memiliki kepentingan untuk berupaya melepaskan harga BBM kepada mekanisme pasar. karena dengan menggunakan mekanisme pasar, akan memungkinkan pihak-pihak dan spekulan yang mempunyai kemampuan untuk mengontrol harga minyak tersebut. hal ini tentu menyebabkan negara penghasil minyak sekalipun seakan tak memiliki kuasa untuk menentukan harga minyak yang ada di dalam negaranya. Kepentingan eksternal tersebut bisa dilihat setidaknya sejak pemerintah menandatangani letter of intent (LoI) dengan International Monetary Fund (IMF) pada 1998. Sejak saat itu pemerintah sudah menjalankan agenda liberalisasi dengan menghapuskan subsidi harga BBM. Kemudian dilanjutkan pada 1999 melalui rancangan UU Migas.

Pada 2000 pemerintah menerima utang dari Amerika dan melalui USAID yang bekerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB) dan World Bank (WB) untuk menyiapkan draf UU Migas yang mengakomodasi semangat liberalisasi sektor energi secara menyeluruh.
Salah satu bentuknya adalah liberalisasi harga yang dimuat dalam UU Migas, pasal 28 ayat 2 yang menyatakan bahwa harga BBM dilepas ke mekanisme pasar. Pada saat UU Migas disahkan, pemerintah telah membuka izin bagi perusahaan-perusahaan asing untuk beroperasi di sektor migas Tanah Air, mulai dari hulu sampai ke hilir (Okezone.com)

Prinsip Liberalisasi itu sendiri sebenarnya adalah “memberikan kebebasan sepenuhnya terhadap kepemilikan atau pengelolaan kepada pihak swasta atau orang perorang sehingga peran Negara sangat minimalis dalam pengelolaan terhadap suatu bidang (Negara tidak mengintervensi terhadap suatu permasalahan, karena melindungi dan menjamin kebebasan kepemilikan).”

liberalisasi BBM ini setidaknya terlihat saat Pemerintah juga memberikan izin kepada perusahaan asing membuka SPBU, kepada beberapa perusahaan ini tampaknya pemerintah memperbolehkan mereka dengan leluasa untuk membuka SPBU dan membiarkannya bersaing dengan SPBU Pertamina yang ada. sepintas keadaan ini terlihat cukup wajar karena mendorong persaingan, namun sesungguhnya kebijakan ini berpotensi menjadi pembenaran pemerintah dalam hal akan dihapuskannya subsidi BBM yang saat ini diperlakukan,

Tindakan pemerintah tersebut sekaligus menghilangkan posisi dominan Pertamina sebagai perusahaan negara yang selama ini memiliki hak monopoli untuk memenuhi kebutuhan minyak nasional. padahal amanat konstitusi negara ini mewajibkan bahwa sektor-sektor yang strategis dikelola negara dengan tujuan agar mampu bermanfaat untuk kepentingan rakyat.
Kedudukan Pertamina diposisikan sama dengan perusahaan asing dan didorong untuk berkompetisi termasuk dalam bisnis SPBU. Sejalan dengan kepentingan bisnis SPBU, dengan pengesahan UU Migas, pemerintah menargetkan harga BBM bisa segera dilepas ke pasar pada 2005.

melihat beberapa fakta diatas, sungguh memprihatinkan rasanya apabila negara ini tidak segera berbenah. karena tinggal menunggu waktu saja terjadinya sebuah liberalisasi BBM yang benar-benar nyata dan kalangan masyarakat menengah kebawah yang harus menanggung dampaknya karena dilihat dari kondisi diatas, sudah jelas sebenarnya langkah negeri ini menuju liberalisasi BBM yang nyata.

sebenarnya masih ada beberapa pilihan yang bisa diambil masyarakat untuk mencegah dan meminimalisir dampak liberalisasi ini. yang pertama adalah melakukan penghematan secara menyeluruh, membuat sumber energi alternatif selain BBM. di berbagai negara lainnya, mulai dikembangkan mobil berbahan bakar alternatif. saya rasa saat ini yang diperlukan saat ini untuk menghentikan polemik BBM adalah segera mempersiapkan energi alternatif yang bisa dikembangkan. hanya cara inilah yang mampu meminimalisir ketergantungan masyarakat terhadap BBM bersubsidi. tidak akan menjadi sebuah solusi apabila kita terus meperdebatkan subsidi BBM karena cepat atau lambat kenaikan BBM akan menjadi sebuah hal yang pasti terjadinya. sambil menunggun itu tiba, hanya energi alternatif lah yang harus segera dipersiapkan untuk mampu mengatasi berbagia permasalahan yang ada dibalik polemik BBM ini

Balada Negeri ini

beberapa waktu lalu mungkin kita pernah mendengar isu penamparan yang dilakukan seorang menteri kepada seorang sipir penjara di salah satu Lembaga Permasyarakatan di Indonesia. isu ini berkembang sangat kuat sehingga kemudian timbulah aksi solidaritas dari sesama sipir di indonesia yang mempermasalahkan pemukulan Wakil Menteri Hukum dan HAM denny Indrayana kepada salah satu sipir di Lapas Pekanbaru. isu penamparan ini bahkan mampu mengaburkan permasalahan inti yang berada di lingkungan LP Pekanbaru itu sendiri, yaitu terkait peredaran narkoba disana.

kronologi sidak Satgas Pemberantasan Narkoba di Lapas Pekanbaru, Senin dinihari, 2 April 2012 yang berujung pada mencuatnya isu pemukulan itu sendiri seperti yang dikutip dari detik.com sebagai berikut:

1. Sekitar pukul 02:30 WIB dinihari, rombongan Satgas Pemberantasan Narkoba sampai di depan pintu pagar masuk Lapas Pekanbaru. Pintu pagar dikunci. Diputuskan untuk melompati pagar.

2. Wamenkumham dan rombongan Satgas Pemberantasan Narkoba menuju pintu gerbang masuk lapas. Bel klenengan dibunyikan dan mengetuk pintu. Butuh waktu beberapa saat sebelum ada suara sipir menanyakan siapa yang datang. Dijawab, “Saya Denny Indrayana, Wamen. Cepat buka pintu”. Lubang
intip pada pintu dibuka, sipir dari dalam melihat kemudian ditutup kembali. Wamenkumham berdiri persis di depan lubang intip, agar terlihat. Pintu tetap tidak dibuka. Sehingga digedor sambil mulai berteriak meminta pintu segera dibuka.

3. Setelah lebih kurang 5 menit, pintu baru dibuka. Rombongan masuk ke dalam, Wamenkumham menegur sipir yang membuka pintu, “Kenapa lama sekali membuka pintunya”. Ajudan pengaman Wamenkumham, melihat reaksi melawan dari sipir, lalu menendang sipir pembuka pintu. Seorang sipir lain di ruang jaga ditendang dan dipukul ajudan. Wamenkumham berteriak, “Hentikan. Hentikan jangan diteruskan. Berhenti”.

4. Wamenkumham mendatangi sipir jaga yang lain, meminta semua HP petugas segera dikumpulkan, menanyakan berapa orang yang jaga, serta meminta tolong agar sidak dinihari itu dibantu kesuksesannya. Kunci lapas diambil, untuk kemudian terjadi proses penggerebekan kepada tiga napi target operasi dari ruang selnya masing-masing, dilanjutkan proses penggeledahan. Ketiga target napi itu adalah Djufriado Tanjung, Husin, dan Luku. Dari hasil penggeledahan di tiga sel napi ditemukan banyak HP, alat isap sabu, plastik pembungkus bekas sabu, dan lain-lain.

5. Selama menunggu proses, Wamenkumham beberapa kali mengumpulkan petugas lapas untuk menjelaskan maksud sidak pemberantasan narkoba tersebut. Wamenkumham juga menanyakan bagaimana kondisi petugas yang terkena pukul dan tendangan. Salah satu petugas menunjukkan tangan kirinya yang luka tergores. Wamenkumham meraba luka itu, dan meminta maaf. “Saya minta maaf ya. Mohon lain kali, jangan terlambat membuka pintu”. Dijelaskan bahwa dalam sidak pemberantasan narkoba, tidak boleh terlambat, karena bisa menghilangkan barang bukti.

6. Sekitar waktu salat Subuh, napi yang menjadi target operasi dan semua sipir sempat dites urin. Ada sipir yang kesulitan buang air kecil hingga harus beberapa kali minum dulu. Tes urin lengkap belum diketahui hasilnya, tetapi beberapa diindikasikan positif memakai narkoba.

7. Sebelum pulang, Wamenkumham kembali mengumpulkan para sipir. Berusaha kembali mengangkat semangat dan moral mereka, untuk tetap melaksanakan tugas dengan baik. “Saya pamit dulu ya. Maaf telah mengganggu istirahatnya. Sekali lagi, saya meminta maaf atas pemukulan dan penendangan tadi”. Wamenkumham kemudian menyalami satu-persatu seluruh sipir Lapas.

8. Menjelang pintu keluar, beberapa sipir menanyakan nasib salah seorang rekannya yang ikut ditangkap BNN. Beberapa sipir meminta, agar rekannya tidak ikut ditangkap BNN. Wamenkumham menjelaskan bukti-bukti keterlibatan sipir tersebut dalam jaringan narkoba yang diciduk dinihari itu, dan meminta para sipir menyerahkannya kepada proses hukum.

9. Sekitar pukul 6:30 WIB rombongan Satgas Pemberantasan Narkoba meninggalkan Lapas Pekanbaru. BNN menciduk tiga narapidana Jufri Tanjung, Husin dan Luku; serta satu orang sipir.

dari kronologi diatas seharusnya jelas tergambar bagaimana kejadian yang sesungguhnya terjadi. disini sebenarnya terjadi kesalahpahaman yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kasus peredaran narkoba di LP pekanbaru ini yang mencoba untuk menyerang balik pihak-pihak yang berusaha mempersempit ruang gerak mereka untuk mengedarkan narkoba di dalam lapas. bahkan pihak-pihak ini cukup jeli dalam memanfaatkan budaya masyarakat indonesia yang cenderung mudah terhanyut dalam sebuah isu tanpa memahami isu utama yang sebenarnya harus diutamakan di negeri ini.

saya sangat kurang sependapat dengan perkataan dari Dirjen Pemasyarakatan Sihabudin yang mempersoalkan atasannya, Wamen Denny Indrayana, bersama petugas BNN yang menggerebek bandar narkoba tidak berkoordinasi dengan dirinya selaku Dirjen. karena yang namanya sidak haruslah dilakukan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi dan tidak bisa sembarang orang yang mengetahuinya. akan sangat lucu apabila ketika kita ingin melakukan sidak dan penggerebekan di sebuah tempat namun melapor dulu kepada penanggungjawab tempat tersebut yang pastinya sangat memungkinkan kebocoran informasi disana, karena seperti yang kita tahu, bahwa dari hasil penggerebekan Wamenkum dengan BNN kemarin, diciduk 3 napi dan satu orang sipir yang kedapatan menjalankan bisnis narkoba di dalam Sel. seharusnya kepala dirjen permasyarakatan itu malu karena ditemukan praktik ilegal di dalam instansinya dan bukan malah berbuat hal “lebay” dengan memperbesar masalah koordinasi layaknya infotainment seperti ini . selain itu sungguh sangat lucu apabila sebuah pegawai negeri mempersoalkan kebijakan atasannya padahal kebijakan itu sendiri dibuat untuk kepentingan LP agar benar-benar mampu bersih dari peredaran narkoba. jika memang pegawai di negeri ini mampu berpikir dengan jernih dan melakukan tugasnya demi rakyat dan negaranya, maka seharusnya tindakan seperti ini yang nyatanya hanya memperlihatkan egoisme pribadi dan jabatannya ini seharusnya jangan sampai ada dalam benak mereka masing-masing.

ya tapi apa dikata lagi, di negeri ini kepentingan pribadi masih lebih diutamakan ketimbang kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara. dan lagi-lagi, “balada negeri ini masih menjadikan kepentingan bangsa dan negara sebagai korban utamanya dengan kepentingan pribadi sebagai aktor utamanya

BBM Naik=Kebaikan untuk rakyat???

Polemik kenaikan harga BBM yang akhir-akhir ini merebak di masyarakat sepertinya benar-benar tak mampu dibendung lagi. Berbagai pihak muncul dengan argumentasinya masing-masing yang sangat beragam. Ada yang terang-terangan menyatakan pro terhadap program ini dan ada juga yang bersikap keras dan tegas menolak diberlakukannya program ini. Dari pihak yang pro kenaikan bbm, ada banyak alasan yang mereka kemukakan,mulai dari harga minyak dunia yg melambung tinggi, defisit APBN,merangsang konversi energi serta program subsidi BBM yang belum tepat sasaran. Begitu pula dengan kontra yang mewakili aspirasi rakyat menengah kebawah yg juga dengan lantang menyuarakan pendapat dan alasan penolakannya seperti naiknya harga bbm akan mencekik rakyat miskin krn harga bahan pokok yg melambung, hingga kenaikan harga BBM adalah salah satu indikasi pemerintah yg membebankan masalahnya hanya pada rakyat belaka. para menteri dan fraksi di DPR pun tampaknya belum menemui kata sepakat utk mengurangi subsidi yg akan berdampak pada kenaikan harga BBM ini. Walaupun pemerintah terkesan memaksakan disetujuinya program ini krn beban apbn yg sdh tdk mampu ditanggulangi lagi apabila subsidi bbm tdk dikurangi. Ada argumentasi dari pemerintah yang cukup menarik dalam upaya pemerintah untuk meyakinkan masyarakat agar menerima kenaikan harga bbm ini yaitu bahwa subsidi bbm yg dikurangi itu agar lebih tepat sasaran dikarenakan selama bbm bersubsidi lebih banyak dikonsumsi oleh kalangan menengah keatas sehingga nantinya subsidi itu akan dialokasikan di pos lain seperti program BLSM(Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) program kesehatan serta pendidikan. kebijakan pengganti subsidi bbm yg ditawarkan oleh pemerintah ini sebenarnya cukup baik dan sangat perlu untuk kita dukung keberlangsungannya. Hanya saja pemerintah seharusnya tidak hanya memaksakan kebaikan versi mereka sendiri namun juga harus mempertimbangkan kebaikan versi masyarakat. BLSM yang selama ini digadang-gadang oleh pemerintah mampu mengurangi beban rakyat sebenarnya belum sepenuhnya mampu meringankan masyarakat. Pemerintah memang menambah jumlah dana yg disalurkan lewat program BLSM namun hal ini jelas belum sebanding dengan peningkatan pengeluaran rakyat dg dihapuskannya subsidi BBM. karena melonjaknya harga bbm juga akan membuat harga sembako melonjak naik,harga transportasi umum naik, harga barang kebutuhan sehari2 juga akan naik karena naiknya biaya distribusi barang. Pertanyaan besarnya sekarang adalah,apakah kenaikan BLSM yg hanya sebesar 150rb itu sebanding dengan kenaikan biaya hidup mereka setiap hari?? Jawabannya sudah pasti TIDAK karena kenaikan harga yg terjadi bukan hanya di satu sisi saja melainkan akan merembet ke sisi ekonomi lainnya. Jika kita hitung secara matematis,anggap saja bahan makanan akan melonjak 20% dr sebelumnya dan biaya transportasi naik antara 25-30% tiap harinya maka sudah bisa kita perkirakan sendiri bahwa beban masyarakat sangat tidak sebanding dengan BLSM yg diterima rakyat.

Harapannya pemerintah kita mulai saat ini belajar memahami kebaikan bukan hanya versi mereka namun juga kebaikan bagi rakyat lain disekitarnya.

 

“Kebaikan akan menemukan fitrahnya bila kita tidak hanya menggunakan untuk diri kita sendiri namun juga utk orang lain disekitar kita”

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.